Mode Gelap
Image
Sabtu, 01 Agustus 2026
Logo

PERNYATAAN PRESIDEN SOAL KEUANGAAN PENGGILINGAN PADI MEMICU SOROTAN: KADES DI SIDOARJO DORONG PERHITUNGAN REALSITIS REALITA LAPANGAN

PERNYATAAN PRESIDEN SOAL KEUANGAAN PENGGILINGAN PADI MEMICU SOROTAN: KADES DI SIDOARJO DORONG PERHITUNGAN REALSITIS REALITA LAPANGAN
PERNYATAAN PRESIDEN SOAL KEUANGAAN PENGGILINGAN PADI MEMICU SOROTAN: KADES DI SIDOARJO DORONG PERHITUNGAN REALSITIS REALITA LAPANGAN

SIDOARJO beritametro.id – Sorotan tajam Presiden terkait perputaran angka hingga Rp2 triliun pada sektor industri penggilingan padi nasional memicu diskursus hangat di tingkat tapak. Kepala Desa Suruh, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, Suwono, turut angkat suara menanggapi narasi tersebut dengan memberikan perspektif riil dari peta pertanian skala pedesaan.

Suwono menilai, kalkulasi nilai fantastis triliunan rupiah tersebut tentu tidak bisa ditarik secara generalisasi pada tingkat usaha tani skala kecil atau satu hamparan lahan desa semata.

Hitungan Skala Desa vs Akumulasi Industri

Menurut Suwono, jika ditinjau dari kapasitas hasil panen lahan pertanian lokal saat ini, angka tersebut terlampau jauh bila hanya mengacu pada satu hektar sawah. Rata-rata estimasi nilai ekonomis hasil panen padi per hektar berada di kisaran Rp7 juta hingga Rp8 juta.

"Kalau dikalkulasi dari hasil panen satu hektar sawah yang hasilnya sekitar Rp7 sampai Rp8 juta, tentu angka Rp2 triliun itu sangat tidak relevan jika dibayangkan untuk satu lokasi atau satu desa. Kemungkinan besar yang dimaksud dalam konteks nasional atau pernyataan pemerintah adalah akumulasi total nilai produksi penggilingan padi dalam skala komunal atau per wilayah kabupaten/nasional," ujar Suwono.

Ia memberikan gambaran, di Kabupaten Sidoarjo saja terdapat sekitar 312 desa dan kelurahan yang mayoritas memiliki penggilingan padi (rice milling) skala kecil hingga menengah. Jika nilai ekonomi seluruh penggilingan padi di tingkat desa, kabupaten, hingga jejaring pengolahan beras skala besar digabungkan secara sistemik, barulah angka akumulasi makro tersebut masuk dalam logika perputaran ekonomi pangan.

Harga Beras di Sidoarjo Masih Terkontrol, Warga Diimbau Bijak

Menyoal dinamika harga beras di kawasan Sukodono dan wilayah Sidoarjo pada umumnya, pergerakan harga pasar masih tergolong fluktuatif namun relatif stabil di tingkat pengecer. Pasokan gabah kering giling (GKG) dari para petani lokal ke penggilingan desa disebut masih berjalan untuk memenuhi kebutuhan pangan daerah.

Pemerintah desa berharap disparitas informasi hitungan ekonomi pangan nasional ini tidak memicu spekulasi harga di tingkat pedagang pasar maupun kekhawatiran berlebih di tengah masyarakat.

Diharapkan sinergi antara kebijakan pengolahan gabah skala besar dan perlindungan bagi penggilingan padi tingkat desa tetap berjalan beriringan demi menjaga keterjangkauan harga beras bagi warga Sidoarjo.  (BM/Red/Dea)

Komentar / Jawab Dari