Jangkau Pasar Luas, Disbudpar Jatim Gelar Festival Inovasi Produk Daya Tarik Wisata Dalam Rangka Pameran Kopi dan Ekonomi Kreatif 2026 Sesi VII
- Posting Oleh sefry
- Sabtu, 01 Agustus 2026 04:08
SURABAYA (BM)– Kawasan Kota Lama Surabaya kembali menunjukkan pesonanya, bukan hanya sebagai destinasi wisata sejarah, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya ekonomi kreatif. Halaman Gedung Internatio dipenuhi ratusan pengunjung yang datang silih berganti menghadiri Festival Inovasi Produk Daya Tarik Wisata dalam rangka Pameran Kopi dan Ekonomi Kreatif 2026 Sesi VII, Kamis (30/7).
Festival yang berlangsung selama dua hari, 30–31 Juli 2026, menjadi ajang mempertemukan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pemerintah, komunitas, hingga masyarakat dalam satu ruang kolaborasi untuk mempromosikan sekaligus memperluas pasar produk-produk unggulan Jawa Timur.
Sejak siang hingga sore hari, suasana kawasan bersejarah itu tampak hidup. Pengunjung bergantian mendatangi setiap stan untuk mencicipi aneka kopi Nusantara, menikmati makanan olahan dan camilan lokal, hingga berbincang langsung dengan para pelaku usaha mengenai proses produksi maupun keunikan produk yang mereka tawarkan.
Sedikitnya 20 tenant UMKM dari Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik ambil bagian dalam festival tersebut. Produk yang dipamerkan pun beragam, mulai dari kopi khas berbagai daerah di Indonesia, teh, cokelat, makanan olahan, kebab, hingga aneka kudapan yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Tidak hanya menjadi pusat transaksi produk lokal, festival juga menghadirkan hiburan musik dari Bring it Band yang membuat suasana Kota Lama semakin semarak. Banyak pengunjung memilih menghabiskan waktu bersama keluarga maupun teman sambil menikmati pertunjukan musik, berburu kuliner, sekaligus mendukung produk-produk UMKM.
Mewakili Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Tim Bidang Pemasaran dan Kelembagaan Ekonomi Kreatif, Ibnu Purwantama, mengatakan penyelenggaraan festival merupakan salah satu strategi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memperkuat promosi produk unggulan daerah yang memiliki keterkaitan erat dengan sektor pariwisata.
Menurutnya, Jawa Timur memiliki kekayaan sumber daya yang luar biasa, mulai dari kopi berkualitas hingga berbagai produk ekonomi kreatif hasil inovasi masyarakat. Potensi tersebut harus terus didorong agar mampu menciptakan nilai tambah ekonomi, membuka peluang usaha baru, menciptakan lapangan kerja, sekaligus meningkatkan daya saing daerah.
"Melalui festival ini kami ingin menghadirkan ruang kolaborasi yang mempertemukan pelaku usaha, komunitas, akademisi, pemerintah, investor, dan masyarakat dalam satu ekosistem yang saling mendukung. Kegiatan ini bukan sekadar pameran, tetapi juga menjadi wadah bertukar ide, memperluas jejaring, dan membangun kerja sama yang berkelanjutan," ujarnya.
Ia menegaskan, keberhasilan sebuah festival tidak hanya diukur dari banyaknya pengunjung yang hadir ataupun jumlah peserta yang mengikuti kegiatan, melainkan juga dari dampak nyata yang ditimbulkan terhadap perekonomian masyarakat.
"Yang kami harapkan adalah meningkatnya transaksi ekonomi, terbukanya peluang kemitraan, semakin luasnya promosi produk lokal, serta bertambahnya minat masyarakat untuk mengunjungi destinasi wisata di Jawa Timur," katanya.
Ibnu juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan kegiatan, termasuk Universitas Negeri Surabaya, pemerintah kabupaten/kota, para peserta, sponsor, komunitas, media, serta seluruh mitra yang terlibat sehingga festival dapat berlangsung dengan baik.
Menutup sambutannya, ia menyampaikan sebuah pantun yang disambut tepuk tangan para peserta. "Harum kopi tersaji pagi, hangat dinikmati penuh inspirasi. Mari bersinergi membangun negeri, Jawa Timur unggul melalui inovasi."
Sementara itu, salah satu peserta pameran, Bayu Febrianto, pemilik Playground Coffee, mengaku telah beberapa kali mengikuti kegiatan serupa yang diselenggarakan Disbudpar Jawa Timur. Menurutnya, pameran seperti ini memberikan manfaat besar bagi pelaku UMKM, terutama dalam memperkenalkan produk kepada masyarakat.
"Acara seperti ini sangat worth it buat UMKM, khususnya pemilik kedai kopi. Yang paling penting bukan hanya jualan, tetapi mencari pelanggan baru dan mengenalkan kopi-kopi Jawa Timur yang kualitasnya sangat bagus," kata Bayu.
Dalam pameran tersebut, Playground Coffee menghadirkan kopi manual brew berbahan biji Arabika pilihan dari berbagai daerah di Indonesia. Bayu mengatakan masih banyak masyarakat yang belum mengenal metode seduh filter sehingga momentum pameran menjadi kesempatan untuk memberikan edukasi kepada calon konsumen.
"Kebanyakan pengunjung masih mengenal kopi tubruk. Di sini kami jelaskan bahwa manual brew membutuhkan pengaturan rasio kopi, ukuran gilingan, sampai suhu air agar menghasilkan cita rasa terbaik," jelasnya.
Pengalaman mengikuti pameran sebelumnya juga memberikan hasil positif. Bayu mengungkapkan omzet penjualan pada kegiatan pekan lalu mampu menembus lebih dari Rp1,5 juta. Namun baginya, manfaat terbesar justru datang dari bertambahnya pelanggan dan semakin dikenalnya produk yang ia tawarkan.
"Kalau untuk memperkenalkan produk kepada customer baru, acara seperti ini sangat layak diikuti," ujarnya.
Hal senada disampaikan Aprilia, pemilik Olive Canteen yang berlokasi di kawasan Mulyosari, Surabaya. Ia mengaku rutin mengikuti pameran yang digelar Disbudpar Jawa Timur sejak tahun lalu.
Menurutnya, kegiatan tersebut sangat membantu UMKM yang memiliki lokasi usaha tidak berada di jalan utama sehingga membutuhkan media promosi agar lebih dikenal masyarakat.
"Olive Canteen lokasinya ada di dalam Apartemen Grand Dharmahusada Lagoon, jadi memang agak masuk. Lewat pameran seperti ini akhirnya banyak orang tahu tempat kami, bahkan banyak yang bertanya apakah bisa makan di tempat atau sekadar nongkrong," tuturnya.
Aprilia mengatakan keuntungan terbesar yang diperoleh dari kegiatan tersebut bukan semata-mata peningkatan omzet, melainkan bertambahnya jangkauan promosi dan pengenalan merek kepada masyarakat.
"Kalau penjualan memang naik turun, apalagi beda antara hari biasa dan akhir pekan. Tapi karena ikut pameran ini gratis, yang paling utama buat kami adalah mengenalkan produk dan lokasi usaha kepada masyarakat. Itu justru nilai paling besar yang kami dapat," katanya.
Festival Kopi dan Ekonomi Kreatif 2026 menjadi bukti bahwa kawasan Kota Lama Surabaya kini tidak hanya berfungsi sebagai destinasi wisata bersejarah, tetapi juga berkembang menjadi ruang produktif yang mempertemukan pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat. Melalui kegiatan semacam ini, promosi pariwisata dan penguatan ekonomi kreatif berjalan beriringan, sekaligus membuka peluang lebih besar bagi UMKM lokal untuk berkembang dan menjangkau pasar yang semakin luas. (sef)
Komentar / Jawab Dari
Anda Mungkin Juga Suka
Populer
Newsletter
Berlangganan milis kami untuk mendapatkan pembaruan baru!
Kategori
- Politik (1627)
- Keadilan (703)
- Hukrim (1991)
- Plesir (28)
- Peristiwa (478)
- Feature (41)
- Advertorial (72)
- Nasional (2091)
- Internasional (562)
- Sports (2000)
- Ekonomi (1499)
- Jawa Timur (16507)
- Weekend (24)
- Indonesia Memilih (323)
- Selebrita (63)
- Lifestyle (297)
- Catatan Metro (206)
- Opini (175)
- Fokus (464)
- Highlight (2)
- Timur Raya (14)
- Surabaya (2778)
- Kriminal (122)
- Pasar dan Mall (759)
- tausiyah (37)
- Falcon-G21 Team Dark (0)
- Kolom Metro (2)
- Event & Promo (13)
- Giat Prajurit (16)
- Wisata (34)
- Global (10)
- Pendidikan (212)
- Hukum (24)
