Mode Gelap
Image
Jumat, 24 April 2026
Logo

Kisah Nenek 85 Tahun Penjual Cilok Naik Haji

Kisah Nenek 85 Tahun Penjual Cilok Naik Haji
Mislicha, nenek berusia 85 tahun dengan penuh haru bercampur bahagia bisa mewujudkan impiannya berangkat haji setelah puluhan tahun menabung dari hasil berjualan Cilok keliling.

SURABAYA (BM) - Mislicha, nenek berusia 85 tahun dengan penuh haru bercampur bahagia bisa mewujudkan impiannya berangkat haji setelah puluhan tahun menabung dari hasil berjualan Cilok keliling.

Nenek asal Kota Pasuruan, Jawa Timur ini saat akan mengawali kisahnya ketika telah tiba di Asrama Haji Sukolilo Surabaya bersama putrinya, Mariatul Qibtiyah, dan dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada Jumat siang ini, Jumat (24/04).

Ia bahkan tercatat sebagai calon jemaah haji tertua dari Kota Pasuruan pada musim haji tahun ini. Perjalanan menuju Tanah Suci bukan hal mudah bagi Mislicha. Selama puluhan tahun berjualan cilok keliling di Kelurahan Bugul Kidul, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, nenek yang telah memiliki 22 cucu ini dengan tekun menyisihkan sebagian penghasilannya setiap hari.

Meski penghasilan terbatas, Mislicha tetap disiplin menabung antara Rp10 ribu hingga Rp25 ribu per hari. Ia juga mengikuti arisan di lingkungan tempat tinggalnya untuk menambah tabungan biaya haji. Pada tahun 2017, dengan tabungan dan uang arisan sebesar Rp25 juta, Mislicha bersama putrinya resmi mendaftar haji.

Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 2020, seluruh biaya haji berhasil dilunasi, dan sejak saat itu mereka tinggal menunggu jadwal keberangkatan. Kini, penantian panjang tersebut akhirnya terwujud. Mislicha dan putrinya tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 10 Embarkasi Surabaya dan dijadwalkan terbang menuju Madinah melalui Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo.

Dengan penuh rasa syukur, Mislicha mengaku tidak menyangka bisa menunaikan ibadah haji di usia senjanya. “Saya sangat bersyukur akhirnya bisa berangkat haji. Dari dulu menabung sedikit demi sedikit dari jualan cilok, semoga ibadah saya nanti lancar dan sehat sampai pulang,” pungkas Mislicha.

Kisah ketekunan Mislicha menjadi inspirasi bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk mewujudkan niat beribadah, selama disertai kesabaran dan kedisiplinan dalam menabung.

Komentar / Jawab Dari