Mode Gelap
Image
Sabtu, 18 April 2026
Logo
"Kurban : Bukan Soal Kambing, Tapi Soal Hati”

"Kurban : Bukan Soal Kambing, Tapi Soal Hati”

Sidoarjo (BM) – Ada yang berbeda di Hari Raya Iduladha tahun ini bagi seorang ayah di Grogol, Sidoarjo, Jawa Timur. Rasa haru menyelinap bukan karena kesedihan, melainkan kebanggaan: anak perempuan sulungnya, yang baru beberapa tahun bekerja, membeli seekor kambing dari hasil jerih payah sendiri untuk berkurban.

Sebagai seorang ayah, ia terdiam. Ingatannya kembali pada masa lalu—saat ia membiasakan anak-anaknya berbagi, mulai dari bekal makanan, ilmu, hingga empati. Nilai-nilai itu ia tanam bukan sekadar nasihat, tapi lewat tindakan sehari-hari.

Kini, saat sang anak tumbuh dewasa, semua itu bukan hanya diingat, tapi dijalankan. Dengan kesadaran penuh, sang anak berkata, “Aku mau ikut kurban tahun ini. Bukan karena bisa, tapi karena pengen berbagi dan ikut taat.”

Fenomena ini bukan hanya soal kurban kambing. Tapi ini tentang “ritual yang hidup”—tradisi ibadah yang dijalankan dengan cinta dan kesadaran spiritual. Sang ayah mengaitkan momen ini dengan kisah agung Nabi Ibrahim dan Ismail.

"Ini bukan soal jumlah kambingnya. Ini tentang keikhlasan. Saya teringat ayat Al-Qur’an, bagaimana Nabi Ibrahim diuji melalui anaknya, dan keduanya ikhlas," ujar sang ayah.

Kisah tersebut tergambar dalam Al-Qur’an Surat As-Saffat ayat 102-107:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata :

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.”

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”(QS As-Saffat: 102).

Dan Allah pun mengganti Ismail dengan hewan sembelihan sebagai bentuk kasih sayang:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”(QS As-Saffat: 107)

Ayat ini bukan hanya kisah klasik, tapi cermin relasi antara generasi: didikan yang ikhlas akan membentuk generasi yang juga ikhlas.

Di era ketika makna spiritual sering tertutupi rutinitas, kisah ini jadi pengingat: bahwa warisan paling berharga dari orangtua bukan harta, tapi nilai hidup yang hidup dalam tindakan anak-anaknya.

Kurban bukan hanya soal menyembelih hewan. Tapi tentang menyembelih ego, rasa enggan berbagi, dan rasa enggan taat. Dan itu, hanya bisa tumbuh lewat teladan yang konsisten.

Momentum ini menjadi pengingat bahwa pendidikan dan keteladanan orangtua adalah warisan yang tak ternilai. Seperti Nabi Ibrahim yang menanamkan keimanan kepada Ismail.

Semoga ini jadi inspirasi bahwa parenting spiritual itu nyata hasilnya. Dan buat para anak muda: kurban bukan sekadar pencapaian finansial, tapi milestone spiritual.(dea)

 

 

 

Komentar / Jawab Dari