Mode Gelap
Image
Sabtu, 18 April 2026
Logo
Akankah Pemkot Mendengar Jeritan Para Pemilik Tenant Tunjungan?
Para pemilik tenant Tunjungan terus merapatkan barisan menyuarakan perjuangan. (BM/FAHAD)

Akankah Pemkot Mendengar Jeritan Para Pemilik Tenant Tunjungan?

SURABAYA (BM) - Jalan Tunjungan kerap dipoles sebagai ikon romantisme Surabaya, dengan lampu gemerlap dan keramaian tiap akhir pekan. Namun di balik hingar-bingar itu, banyak tenant justru menjerit: omzet anjlok, usaha sepi, dan ancaman merumahkan karyawan semakin nyata.

Kebijakan Pemkot Surabaya yang melarang kendaraan berhenti di sepanjang bahu jalan—dengan alasan macet—semakin memperparah keadaan.

Masalah parkir memang klasik, tapi solusi dengan larangan total hanya memutus napas para pelaku usaha, ungkap Fahad mewakili para pemilik tenant, Senin (8/9/2025).

Bagaimana mungkin kawasan wisata bisa hidup tanpa akses parkir yang manusiawi? Apalagi saat musim hujan, pengunjung harus berjalan jauh dari kantong parkir resmi ke tenant sambil kehujanan. Tentu banyak yang akhirnya memilih untuk tidak datang sama sekali.

Akibatnya, tenant makin sepi, retribusi resmi tak jelas hasilnya, sementara juru parkir liar tetap berkeliaran. Yang jadi korban adalah pengusaha lokal yang harus membayar sewa, menggaji karyawan, dan bertahan hidup di tengah tekanan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, jangan salahkan tenant ketika satu per satu menutup usahanya.

“Tunjungan Romansa” yang digembar-gemborkan hanya akan jadi dongeng, berganti dengan pemandangan ruko gelap dan papan tutup permanen.

Pemkot Surabaya harus segera berubah haluan: bukan sekadar melarang, tetapi menghadirkan solusi nyata. Karena tanpa tenant, Tunjungan bukan lagi ikon—melainkan sekadar jalan kosong yang kehilangan denyut hidupnya. (*)

Komentar / Jawab Dari