Mode Gelap
Image
Selasa, 04 Agustus 2026
Logo
YJI Lanjutkan Skrining Penyakit Jantung Rematik pada Generasi Sekolah

YJI Lanjutkan Skrining Penyakit Jantung Rematik pada Generasi Sekolah

Jakarta(BM)– Program nasional skrining Penyakit Jantung Rematik (PJR) yang digagas Yayasan Jantung Indonesia (YJI) terus bergulir. Setelah sukses melaksanakan kick-off di Malang dan Tulang Bawang-Lampung, skrining PJR kini hadir di Kabupaten Bekasi sebagai lokasi ketiga dari empat daerah prioritas yang ditargetkan, yaitu Malang, Tulang Bawang (Lampung), Bekasi, dan Minahasa Utara.

Kegiatan skrining tahap 1 di Kabupaten Bekasi dilaksanakan di SDN Cibuntu 01 dan SDN Warnasari 01. Sebanyak 958 anak dari kedua sekolah tersebut menjalani pemeriksaan sebagai bagian dari upaya YJI menjangkau 8.000 anak usia Sekolah Dasar di seluruh Indonesia untuk mendeteksi dini Penyakit Jantung Rematik—sebuah penyakit yang lahir dari infeksi tenggorokan yang tidak ditangani dengan baik dan dapat menyebabkan kerusakan permanen pada katup jantung.

Penyakit yang Diam-Diam Mengancam

Penyakit Jantung Rematik (PJR) adalah komplikasi serius dari infeksi bakteri streptokokus yang tidak diobati. Data menunjukkan bahwa:

 60% kasus radang tenggorokan berulang berpotensi berkembang menjadi PJR.

 Lebih dari 50% kasus tidak bergejala hingga stadium lanjut.

 Risiko kematian dini 2–3 kali lebih tinggi pada penderita PJR berat.

 Kelompok usia 5–15 tahun paling rentan.

Di Kabupaten Bekasi, skrining menyasar anak-anak kelas 5 dan 6 SD. Pemeriksaan dilakukan menggunakan alat ekokardiografi portabel yang memungkinkan deteksi dini kelainan katup jantung akibat rematik secara akurat dan cepat. Dari 958 anak yang diskrining, hasilnya akan dianalisis lebih lanjut untuk menentukan langkah intervensi yang diperlukan.

  1. Ario Soeryo Kuntjoro, Sp.JP(K), Ketua Bidang Medis  sekaligus Project Director Rheumatic Heart Disease Screening Yayasan Jantung Indonesia, menjelaskan, "Skrining di sekolah sangat krusial karena kelompok usia 5–15 tahun adalah yang paling rentan terhadap PJR. Dengan deteksi dini, kita bisa mencegah kerusakan jantung permanen dan memberikan intervensi sebelum terlambat. Kehadiran kami di SDN Cibuntu 01 dan SDN Warnasari dengan 958 anak yang diskrining adalah bagian dari upaya besar untuk memastikan tidak ada anak yang terlewat dari program ini."

Edukasi untuk Guru dan Orang Tua

Kegiatan skrining di kedua sekolah ini juga menghadirkan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah untuk memberikan edukasi kepada para guru dan orang tua. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan gejala awal PJR, pentingnya penanganan infeksi tenggorokan yang tepat, serta langkah-langkah pencegahan yang bisa dilakukan di rumah.

Iwet Ramadhan, Ketua Bidang Komunikasi sekaligus Project Leader Rheumatic Heart Disease Screening Yayasan Jantung Indonesia , menyatakan, "Kami tidak hanya memeriksa anak-anak, tetapi juga membangun kesadaran di lingkungan sekolah. Guru dan orang tua adalah garda terdepan. Dengan pengetahuan yang cukup, mereka bisa mengenali gejala awal dan segera mengambil tindakan. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan generasi penerus bangsa."

Harapan untuk Masa Depan Anak Indonesia

Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia, Annisa Pohan Yudhoyono, menyampaikan pesan yang menyentuh, "Saya membayangkan anak-anak di SDN Cibuntu 01 dan SDN Warnasari 01, sama seperti anak-anak di seluruh Indonesia. Mereka berhak tumbuh dengan jantung yang sehat. Kami tidak ingin ada orang tua yang baru mengetahui anaknya mengidap PJR ketika sudah terlambat. Program ini adalah wujud nyata dari 'Use Heart for Action'—kami bertindak sekarang untuk melindungi masa depan mereka.Yayasan Jantung Indonesia hadir sebagai mitra strategis pemerintah dalam upaya menekan angka penyakit kardiovaskular, khususnya Penyakit Jantung Rematik (PJR) dan Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada anak-anak Indonesia. Program skrining ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Dengan mendeteksi penyakit sejak dini, kita menyelamatkan generasi penerus dari kecacatan permanen dan kematian dini."

Iwet Ramadhan menambahkan, "Kami memulai dari Malang, Tulang Bawang, kemudian Bekasi dan akan terus bergerak ke Minahasa Utara. Ini adalah perjalanan panjang, tetapi setiap anak yang kami skrining adalah nyawa yang kami selamatkan. Mari bersama-sama kita lindungi generasi penerus bangsa dari ancaman penyakit jantung yang dapat dicegah."

Dampak Jangka Panjang

Program skrining ini memiliki visi jangka panjang:

 Penurunan angka kematian dini akibat PJR melalui deteksi dan intervensi dini.

 Penghematan biaya kesehatan karena perawatan PJR stadium lanjut jauh lebih mahal daripada pencegahan.

 Peningkatan kualitas hidup anak-anak Indonesia.

 Model percontohan yang dapat diadopsi oleh negara berkembang lain.

Hasil skrining dari 958 anak di Kabupaten Bekasi, bersama dengan hasil dari daerah lainnya, akan dianalisis secara komprehensif dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah sebagai dasar rekomendasi kebijakan skrining wajib di sekolah-sekolah Indonesia.

Program skrining ini menggunakan perangkat Lumify, alat ultrasound portabel dari Philips yang menghubungkan transduser ultrasonik ke perangkat Android atau iOS yang kompatibel. Dukungan Philips Foundation melalui kemitraan dengan World Heart Federation (WHF) memungkinkan Yayasan Jantung Indonesia menjangkau anak-anak di daerah prioritas dengan akses terbatas ke layanan spesialis jantung.(ris)

 

Komentar / Jawab Dari