Watasa Wadah Pengemudi Ojol Perempuan dan Cerita Perjuangan Perempuan sebagai Ojol
- Posting Oleh Nanang
- Minggu, 21 Desember 2025 19:12
SURABAYA (BM) - Resistensi ojol (ojek online) pengemudi perempuan seringkali menghadapi berbagai resiko dibandingkan pengemudi laki-laki dan tantangan ojol perempuan pun lebih kompleks baik dari sisi sosial, budaya, ekonomi dan keamanan.
Dan tak disangka, di Surabaya ada wadah khusus untuk para pengemudi ojol perempuan yakni Wanita Tangguh Surabaya atau disingkat Watasa yang merupakan wadah perkumpulan bagi Ojek Online (Ojol) perempuan dari berbagai komunitas Ojol yang dibentuk independen.
Watasa sendiri mempunyai seabrek program dan kegiatan seperti UMKM, pelatihan-pelatihan baik make up atau rias ataupun memasak, kemudian seni beladiri Jepang Jujitsu dan kegiatan lain baik secara swadaya maupun dukungan serta bantuan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) dan perhatian Gubernur Jawa, Timur, Khofifah Indar Parawansa.
Yuniawati, Koordinator Watasa, atau biasa disapa Mbok Mak, mengatakan, perempuan itu selayaknya tidak di jalan namun karena keadaan dan beberapa faktor sehingga membuat mereka harus terpaksa menjalani profesi sebagai ojol perempuan.
“Nah peran pemerintah disini itu menjadikan ojol perempuan ini agar meminimalkan waktu mereka ketika di jalan dan digunakan untuk kegiatan lain seperti UMKM, makanya ada yang sampai menerima bantuan gerobak atau bantuan lain,” ujar Mbok Mak, Minggu (21/12).
“Jadi intinya sebenarnya cuma satu jadi pemerintah itu menginginkan terutama ibu Khofifah Indar Parawansa sangat mendukung kalau ojol perempuan itu lebih untuk meminimalisir waktunya di jalan,” tuturnya.
Selain itu, Mbok Mak juga menjelaskan, bahwa wadah untuk ojol pengemudi perempuan yang dibentuk itu ada dua, baik secara independen maupun dibentuk oleh aplikator itupun ada beraneka macam.
“Jadi komunitas kita itu macam-macam, ada mulai dari komunitas Gaspol, Srikandi Grab, Srikandi Gojek, Go Ladies Gojek, Grubyuk dan banyak lah, cuma itu kan bentukan aplikator sedangkan kalau kita Wanita Tangguh Surabaya itu independen mencakup dari semua 8 aplikasi itu dan kita bisa masuk semua itu di Wanita Tangguh Surabaya,” uraiannya.
Kerentanan, Perjuangan, dan Harapan Cerita Ojol Perempuan di Surabaya
Di tengah situasi kerentanan yang dihadapi para pengemudi ojol perempuan, daya juang mereka begitu kuat. Alih-alih menyerah dengan keadaan, para Ojol perempuan terlibat aktif dalam membangun kekuatan bersama untuk mengatasi persoalan harian yang dihadapi.
Misalnya Reni Prihatiningsih (40 tahun) ibu dengan 3 anak ini sudah menjalani 8 tahun sebagai pengemudi ojol perempuan. Baginya yang disukai selama menjalani sebagai ojol perempuan tidak terikat waktu sehingga bisa fleksibel mendampingi anak-anaknya.
“Jadi setiap waktu tidak pagi atau siang, fleksibel tidak terikat waktu itu sukanya. Sedangkan bicara tidak sukanya ya kita di jalan ya kepanasan, kehujanan, capek, kan bisa emosi juga,” ujarnya.
Adapun kerentanan seperti tindakan pelecehan atau tindakan kekerasan, Reni bersyukur tidak pernah mengalaminya meskipun kadang pulang larut malam hingga jelang pagi.
“Ya Alhamdulillah nggak pernah selama jadi ojol, ya kalau penumpang cerewet, komplain lalu di cancel pernah, tapi tidak ada masalah sih,” ungkap Reni.
Sedangkan beda lagi yang dialami Dyana Dee ibu dengan 5 anak ini kerap menerima order fiktif hingga dua kali. “Ya saya bersyukur banyak teman-teman yang mewanti-wanti dan memberikan cara menanganinya, jadi, bagaimana caranya untuk menyelesaikan itu, ditaruh dimana, terus dengan tingkat keamanan aplikasinya gimana, karena memang order fiktif ini benar-benar merugikan driver, apalagi bagi perempuan.,” ulasnya.
Tak hanya itu ceritanya, dyana juga kerap mengantar penumpang yang sedang sakit dan mabuk sepulang dari tempat hiburan malam, dengan aroma minuman beralkohol.
“Saya kan memang sering jalan malam hari pernah ada yang sakit lalu ada yang mabuk dan izin pegangan tangan ya tidak masalah selama tidak kurang ajar sih,” terangnya. “Tapi kadang kita juga harus memang benar-benar harus menjaga tetap waspada jika ada penumpang yang agak-agak mepet, saya selalu melihat melalui kaca sepion, ya Alhamdulillah selama 6 tahun tidak mengalami pelecehan,” pungkasnya.
Komentar / Jawab Dari
Anda Mungkin Juga Suka
Populer
Newsletter
Berlangganan milis kami untuk mendapatkan pembaruan baru!
Kategori
- Politik (1625)
- Keadilan (700)
- Hukrim (1929)
- Plesir (26)
- Peristiwa (467)
- Feature (41)
- Advertorial (72)
- Nasional (2029)
- Internasional (560)
- Sports (1996)
- Ekonomi (1462)
- Jawa Timur (16403)
- Weekend (23)
- Indonesia Memilih (323)
- Selebrita (61)
- Lifestyle (288)
- Catatan Metro (206)
- Opini (174)
- Fokus (464)
- Highlight (1)
- Timur Raya (14)
- Surabaya (2744)
- Kriminal (120)
- Pasar dan Mall (759)
- tausiyah (37)
- Falcon-G21 Team Dark (0)
- Kolom Metro (2)
- Event & Promo (10)
- Giat Prajurit (15)
- Wisata (33)
- Global (10)
- Pendidikan (204)
- Hukum (23)
