Mode Gelap
Image
Selasa, 08 September 2026
Logo

Tantangan Kurikulum Vokasi, APVOKASI Jatim Desak Sekolah Kembangkan Soft Skills di Tengah Gempuran AI

Tantangan Kurikulum Vokasi, APVOKASI Jatim Desak Sekolah Kembangkan Soft Skills di Tengah Gempuran AI
APVOKASI Jatim soroti pembatasan AI dan gawai di sekolah, ingatkan pentingnya menjaga nalar kritis dan soft skills siswa vokasi.

SURABAYA beritametro.id – Pesatnya gelombang digitalisasi dan penetrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) generatif di dunia pendidikan menuntut reposisi mendasar pada sistem pembelajaran vokasi. Di tengah tren global sejumlah negara yang mulai memperketat aturan gawai demi menjaga konsentrasi belajar, kalangan dunia usaha dan industri memandang bahwa tantangan terbesar institusi pendidikan saat ini bukan lagi sekadar menyediakan perangkat canggih, melainkan menjaga kualitas soft skills dan integritas mental peserta didik agar tidak sepenuhnya bergantung pada otomatisasi digital.

Ketua Asosiasi Pengusaha Vokasi Indonesia (APVOKASI) Jawa Timur, Dr. Ir. Jamhadi, M.B.A., menekankan bahwa pembatasan gawai maupun pengaturan terukur terhadap pemanfaatan AI di sekolah harus dilihat dari sudut pandang kesiapan mental tenaga kerja masa depan. Menurutnya, siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) dan vokasi rentan mengalami erosi kemampuan analisis mendalam jika seluruh proses kognitif diserahkan kepada mesin pintar. “Pembatasan gawai dan regulasi AI bukan penolakan terhadap modernitas. Ini merupakan instrumen disiplin strategis agar teknologi menjadi akselerator kompetensi, bukan pengikis nalar kritis, kemampuan motorik dan integritas peserta didik,” tegas Jamhadi dalam pandangannya terkait arah kebijakan pendidikan modern, Senin (7/9/2026).

Kebijakan restriktif yang mulai diterapkan di berbagai negara maju seperti pembatasan screen time di New York, larangan total ponsel di lingkungan sekolah Prancis, hingga pembatasan usia media sosial di Australia, memberikan sinyal kuat bagi ekosistem pendidikan vokasi di tanah air. Jamhadi menilai lembaga pendidikan vokasi harus mampu menyeimbangkan antara penguasaan hard skills berbasis teknologi digital dengan penguatan karakter interpersonal, etika kerja, serta kemampuan problem solving secara manual yang tidak bisa digantikan oleh algoritma komputer.

Para pelaku industri dan dunia usaha berharap institusi pendidikan tidak terjebak dalam euforia digital semata yang justru melahirkan lulusan instan tanpa pemahaman konseptual yang matang. Dengan adanya pengetatan aturan gawai yang terarah, dunia vokasi di Jawa Timur di harapkan mampu mencetak SDM yang tidak hanya cakap mengoperasikan teknologi, tetapi juga memiliki ketahanan mental, kreativitas autentik, serta integritas moral yang tinggi di dunia kerja nyata.(BM/Red/Dea)

Komentar / Jawab Dari