Mode Gelap
Image
Sabtu, 25 April 2026
Logo

MISTERI PAKU BUMI TANAH JAWA:

MISTERI PAKU BUMI TANAH JAWA:
Erupsi Semeru, Jeritan Mahameru, dan Firasat 'Gonjang-Ganjing' Nusantara

Erupsi Semeru, Jeritan Mahameru, dan Firasat 'Gonjang-Ganjing' Nusantara

Oleh : Masdea

JAWA TIMUR (BM) – Ketika kolom abu setinggi 2.000 meter itu membelah angkasa pada Rabu sore (19/11/2025), bagi kacamata sains, itu adalah pelepasan energi magma. Namun, bagi para penganut Kejawen dan penjaga tradisi kuno di lereng timur Jawa, gemuruh Semeru bukan sekadar batuknya gunung berapi. Itu adalah sinyal. Sebuah pesan dari "Paku Bumi" yang sedang melonggar, menandakan keseimbangan Tanah Jawa—dan mungkin Nusantara—sedang terganggu.

Di balik kemegahan puncaknya, Semeru menyimpan riwayat sakral yang tertulis dalam kitab kuno Tantu Panggelaran (bahasa Kawi abad ke-15). Legenda menyebutkan, dahulu kala Pulau Jawa adalah daratan yang labil, terombang-ambing di samudra luas tak tentu arah, bagaikan perahu tanpa jangkar.

Demi menstabilkan pulau ini agar layak dihuni manusia, para Dewa di Kayangan mengambil keputusan besar: memindahkan puncak Gunung Meru yang agung dari India (Jambudwipa) ke tanah Jawa.

Proses pemindahan itu sarat dengan simbolisme kosmis. Dewa Wisnu menjelma menjadi kura-kura raksasa (Badawanala) untuk menggendong gunung di punggungnya, sementara Dewa Brahma berwujud ular naga raksasa yang membelit gunung tersebut agar tidak jatuh.

Awalnya, gunung itu diletakkan di bagian barat Jawa. Namun, hukum keseimbangan alam bicara. Bagian timur pulau itu justru terangkat (menjungkat) karena berat yang tak seimbang. Para Dewa kemudian menggesernya ke timur.

Dalam perjalanan itulah, serpihan gunung tercecer menjadi deretan gunung-gunung di Jawa, hingga puncaknya yang terbelah diletakkan di dua titik: bagian kecil menjadi Gunung Penanggungan (Pawitra), dan bagian terbesar menjadi Gunung Semeru (Mahameru).

Sejak saat itulah, Semeru diyakini sebagai "Paku Bumi"—pasak spiritual yang memaku Jawa agar diam dan tenang.

Erupsi hebat pada November 2025 ini seolah membuka kembali lembaran mitos tersebut. Dalam kosmologi Jawa, alam semesta (makrokosmos) dan kehidupan manusia (mikrokosmos) memiliki hubungan batin yang erat. Jika alam bergejolak, itu adalah cermin dari perilaku manusia yang mendiaminya.

Banyak kalangan spiritualis mengaitkan "goyangnya" Paku Bumi ini dengan kondisi Nusantara yang sedang tidak baik-baik saja. Rentetan kejadian sepekan terakhir seolah mengonfirmasi firasat buruk tersebut. 

"Semeru itu pasak. Kalau pasaknya bergerak, berarti ada yang ingin ia sampaikan. Entah itu peringatan agar pemimpin kembali eling (sadar), atau alam yang sudah lelah menanggung beban keserakahan manusia," ungkap seorang pemerhati budaya Jawa yang enggan disebut namanya.

Letusan yang mengarah ke tenggara dan menerjang Gladak Perak untuk kedua kalinya ini juga menyisakan tanya. Apakah ini hukuman, atau proses pemurnian?

Sebagaimana legenda Dewa Wisnu dan Brahma yang bersusah payah menyeimbangkan Jawa, erupsi Semeru hari ini mungkin adalah cara alam mencari keseimbangan barunya sendiri.

Di tengah hiruk-pikuk korupsi dan bencana hidrometeorologi yang mengepung negeri, "Jeritan" Mahameru sore itu menjadi pengingat mistis yang paling keras: bahwa manusia hanyalah penumpang di tanah yang dipaku oleh para Dewa, dan sewaktu-waktu, paku itu bisa saja dicabut jika keseimbangan tak lagi dijaga.

Langit gelap di Lumajang sore itu bukan hanya abu vulkanik, melainkan tabir misteri yang mengajak seluruh penghuni Nusantara untuk kembali mawas diri.(*)

Komentar / Jawab Dari