Mode Gelap
Image
Sabtu, 18 April 2026
Logo

Jadi Saksi Sidang Kanjuruhan, Manager Persebaya: Nyanyian Bernada Ancaman Terdengar Sejak Pertandingan Belum Dimulai

Jadi Saksi Sidang Kanjuruhan, Manager Persebaya: Nyanyian Bernada Ancaman Terdengar Sejak Pertandingan Belum Dimulai
Yahya Alkatiri, Manager Persebaya saat memberikan keterangannya sebagai saksi pada sidang perkara tragedi Kanjuruhan di PN Surabaya.

SURABAYA (BM) - Yahya Alkatiri, Manager Persebaya didatangkan menjadi saksi pada sidang lanjutan perkara tragedi Kanjuruhan dengan terdakwa tiga polisi di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (14/2/2023). Dalam kesaksiannya, Yahya mengaku mendengar nada ancaman dari para suporter sejak pertadingan Arema vs Persebaya belum dimulai.

Ketiga terdakwa yakni Danki 1 Brimob Polda Jatim AKP Hasdarmawan, Kabag Ops Polres Malang Kompol Wahyu Setyo Pranoto, dan Kasat Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Achmadi. Di hadapan majelis hakim, Yahya Alkatiri menyebut nyanyian bernada ancaman sudah terdengar sejak timnya melakukan pemanasan di lapangan Stadion Kanjuruhan. "Ya (nyanyian) 'Bonek jancok dibunuh saja', saya mendengarnya bahkan saat pemanasan pemain," katanya.

Ketika wasit meniupkan peluit tanda dimulainya pertandingan, para suporter juga mulai melakukan pelemparan ke arah bangku pemain cadangan dan Official Persebaya. "Sepanjang pertandingan lagu 'Bonek jancok dibunuh saja' terus berkumandang. Pelemparan ada waktu bermain, diarahkan ke bench (bangku pemain cadangan) kami," jelasnya.

Menurut Yahya Alkatiri, aksi suporter semakin panas saat skor pertadingan berubah menjadi 2-3 untuk keunggulan Persebaya. "Pas (skor) 2-2 ada teriakan, awal masih belum (panas). Naik-naiknya itu pas skor 2-3. Terus ke-90 menit terakhir kalimat mencekam dan saya sudah meminta pemain cadangan siap-siap," beber Yahya.

Yahya kemudian mendapat instruksi agar seluruh tim dan official dalam waktu lima menit segera keluar dari ruang ganti. Ketika itu, dia melihat sejumlah suporter sudah mulai masuk ke lapangan. "Saya lihat dari dalam ada suporter turun ke lapangan, tidak lama di dalam, media officer ngasih waktu 5 menit, cepet, karena suporter sudah turun, kondisi mencekam," ujarnya.

Para pemain dan official Persebaya kemudian langsung masuk ke kendaraan barakuda untuk dievakuasi dari Stadion Kanjuruhan. Namun saat hendak dievakuasi, mereka terhambat selama satu jam lebih. "Tersendat, kami masuk 22.08 WIB, sekitar jam 23.20 WIB, rantis baru bisa jala. Saya tanyakan, ini kenapa gak jalan, terus katanya ada massa besar itu tadi," kata dia.

Sementara itu, Defi Harianto, salah satu Official Persebaya yang juga menjadi saksi menceritakan kengerian saat proses evakuasi pemain dan official Persebaya. "Setelah naik enggak bisa jalan, kami juga tertahan di sana (Stadion Kanjuruhan), tidak tahu soalnya posisi truk gelap. Hanya melihat steward menghalau," katanya.

Meski truk yang dinaikinya akhirnya bisa berjalan perlahan, lanjut Defi, tapi sejumlah suporter terus melempari kendaraan dengan berbagai benda. "Terkait lemparan pas ketika mau bergerak, setelah satu jam (berhenti) barakuda jalan. Truk kami dihadang massa, dilempari, bingung dilempari itu kita habis tameng tiga (untuk menutupi lemparan)," jelasnya.

Defi akhirnya memutuskan keluar dari kendaraan tersebut setelah kondisi tidak memungkinkan. Bahkan dirinya mengaku sempat melihat salah satu suporter memasukan api ke dalam truk yang dinaikinya. "Terakhir saya memutuskan untuk turun, itu ada api yang dimasukan ke dalam truk, saya ada di dalam, terus saya turun, dan sama Brimob diamankan," ujarnya. (arf/tit)

Komentar / Jawab Dari