Saat Telur Turun Ke Jalan Magetan
- Posting Oleh dicky
- Jumat, 08 Mei 2026 13:05
Magetan (BM) - Pak Darmo menyeka keringat di dahinya, tangannya yang kasar dengan cekatan menyusun baki-baki berisi telur ke atas bak mobil pikap. Di bawah terik matahari Rabu (6/5/2026), riuh rendah suara kendaraan di kawasan Alun-Alun Magetan mendadak berubah menjadi antrean panjang. Namun, Pak Darmo tidak sedang menunggu pembeli. Ia sedang bersiap membagikan ribuan butir telur itu secara cuma-cuma.
Bagi para pengendara yang melintas, menerima enam butir telur gratis terasa seperti mendapat durian runtuh. "Lumayan buat lauk di rumah, Mas. Sekarang apa-apa mahal, cuma telur ini yang lagi miring," ujar salah satu warga sembari tersenyum lebar. Namun, di balik senyum warga, ada getir yang dirasakan Pak Darmo dan puluhan peternak lainnya.
Aksi bagi-bagi tiga ton telur gratis ini bukanlah perayaan syukur, melainkan sebuah teriakan sunyi. Pak Darmo, yang sudah belasan tahun bergulat dengan aroma khas pakan dan riuh kokok ayam di kandang, merasa keadaan sedang tidak baik-baik saja.
"Ayam itu tidak tahu kalau harga telur lagi jatuh, Mas. Mereka tetap minta makan tiap hari," keluhnya. Di kandangnya, mesin penggiling pakan terus menderu, menelan biaya yang kian mencekik. Bagi peternak seperti Darmo, pakan adalah napas utama yang memakan 70 persen biaya produksi. Saat ini, harga telur di tingkat mereka anjlok hingga Rp22.800 per kilogram—angka yang jauh dari kata ideal jika dibandingkan dengan Harga Acuan Pemerintah yang seharusnya Rp26.500.
Ironisnya, Magetan sedang "kebanjiran" protein. Setiap harinya, bumi Magetan menghasilkan sekitar 81 ton telur. Meski 40 persennya terserap oleh warga lokal, sisanya harus bertarung di pasar luar daerah yang juga tengah lesu. Secara nasional, grafik harga memang sedang menukik tajam sejak awal April lalu.
Bagi masyarakat, harga Rp26.000 di agen mungkin adalah kabar baik bagi kantong belanja. Namun bagi peternak, selisih harga itu adalah lubang kerugian yang harus mereka tambal setiap hari. Obat-obatan, listrik, hingga upah pekerja kandang tidak bisa dikompromi, sementara harga jual seolah tak punya harga diri.
Siang itu, Alun-Alun Magetan menjadi saksi betapa paradoksnya ekonomi kita. Di satu sisi, ada kegembiraan warga membawa pulang rezeki kecil dalam kantong plastik. Di sisi lain, ada peternak yang memilih membagikan hasil keringatnya ke jalanan karena merasa suara mereka tak lagi mempan di ruang rapat.
Ketika telur-telur itu berpindah tangan, Pak Darmo hanya berharap satu hal: agar pemerintah melihat bahwa di balik cangkang telur yang retak harganya, ada nasib ribuan peternak yang sedang dipertaruhkan. (dea bm)
Komentar / Jawab Dari
Anda Mungkin Juga Suka
Populer
Newsletter
Berlangganan milis kami untuk mendapatkan pembaruan baru!
Kategori
- Politik (1625)
- Keadilan (700)
- Hukrim (1922)
- Plesir (26)
- Peristiwa (467)
- Feature (41)
- Advertorial (72)
- Nasional (2029)
- Internasional (560)
- Sports (1996)
- Ekonomi (1462)
- Jawa Timur (16396)
- Weekend (23)
- Indonesia Memilih (323)
- Selebrita (61)
- Lifestyle (288)
- Catatan Metro (206)
- Opini (174)
- Fokus (464)
- Highlight (1)
- Timur Raya (14)
- Surabaya (2743)
- Kriminal (120)
- Pasar dan Mall (759)
- tausiyah (37)
- Falcon-G21 Team Dark (0)
- Kolom Metro (2)
- Event & Promo (10)
- Giat Prajurit (15)
- Wisata (32)
- Global (10)
- Pendidikan (203)
- Hukum (23)
