Mode Gelap
Image
Kamis, 13 Agustus 2026
Logo

Transformasi-Orientasi Kepemimpinan Nahdlatul Ulama Abad II, Kyai Asep: Saatnya Muktamar Ke-35 NU Kembalikan Rumah Besar Pesantren ke Tangan Ulama

Transformasi-Orientasi Kepemimpinan Nahdlatul Ulama Abad II, Kyai Asep: Saatnya Muktamar Ke-35 NU Kembalikan Rumah Besar Pesantren ke Tangan Ulama
Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah KH Asep Saifuddin Chalim saat wawancara di Surabaya

SURABAYA (BM) - Jelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada akhir Agustus 2026, arah kepemimpinan organisasi di abad kedua mulai menjadi sorotan para ulama dan tokoh pesantren di Jawa Timur (Jatim).

Sorotan tersebut mengemuka dalam Dialog Publik bertajuk “Transformasi–Orientasi Kepemimpinan Nahdlatul Ulama Abad II” yang digelar Jurnalis Pokja Grahadi bersama Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Aula JKSN, Surabaya

Forum tersebut menghadirkan Ketua Umum JKSN sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah KH Asep Saifuddin Chalim, Pengasuh Pesantren Bumi Sholawat KH Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali), Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Prof Usep Abdul Matin, serta Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya Prof Dr KH Imam Ghozali Said.

Dalam pemaparannya, Kiai Asep mengingatkan agar proses modernisasi dan transformasi organisasi tidak membuat NU kehilangan akar sejarahnya sebagai wadah perjuangan ulama dan pesantren.

Ia mengulas kembali rekam jejak lahirnya Nahdlatul Wathan pada 1916 hingga berdirinya NU pada 1926 melalui peran penting KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, dan para kiai pendiri lainnya.

"Kesimpulannya, Nahdlatul Ulama adalah rumah besarnya pesantren, organisasi yang didirikan oleh pesantren-pesantren besar oleh tokoh-tokohnya. Dominannya adalah Syuriyah," tegas Kiai Asep, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, KH Hasyim Asy'ari sejak awal menghendaki NU bukan sebagai kendaraan perseorangan, melainkan representasi lembaga pesantren yang dipimpin para ulama.

Menatap Muktamar ke-35 di Jombang, Kiai Asep memberikan catatan kritis atas dinamika penyelenggaraan muktamar terdahulu. Ia menegaskan agar forum tertinggi organisasi tersebut tidak kehilangan kendali dari para alim ulama.

"NU harus dikendalikan oleh ulama. Jangan diatur oleh segelintir anak muda yang kemudian mengendalikan muktamar dengan kedzaliman-kedzaliman," kritiknya.

Bagi Kiai Asep, Muktamar ke-35 hendaknya tidak sekadar menjadi ajang perebutan struktur kepemimpinan, melainkan momentum mengembalikan marwah NU sebagai organisasi keagamaan dan kebangsaan.

Ia menambahkan, ada dua fondasi utama dalam gagasan pendirian NU, yakni perjuangan kebangsaan dan penguatan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang inklusif serta menjunjung tinggi persatuan.

Jika dahulu perjuangan NU diarahkan untuk merebut kemerdekaan, maka tantangan abad kedua adalah memastikan masyarakat benar-benar merasakan hasil dari kemerdekaan itu," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Jurnalis Pokja Grahadi, Fatimartuzzahroh (Ima), menjelaskan bahwa dialog publik ini digagas sebagai wujud kontribusi insan pers Jatim menyambut Muktamar ke-35 NU.

Forum yang dihadiri sekitar 60 jurnalis beserta perwakilan badan otonom NU—seperti GP Ansor, PMII, ISNU, IPNU, IPPNU, dan Lesbumi ini bertujuan untuk mensyiarkan pemikiran para ulama Jatim ke tingkat nasional.

"Semangatnya supaya suara dan pemikiran alim ulama di Jatim dapat tersampaikan demi terwujudnya transformasi dan reorientasi kepemimpinan NU yang lebih baik pada abad kedua nantinya," kata Ima.

Komentar / Jawab Dari