Mode Gelap
Image
Senin, 21 September 2026
Logo

Ketika Keahlian Direndahkan dan Penonton Pun Tertawa

Ketika Keahlian Direndahkan dan Penonton Pun Tertawa
Oleh : Dr. Andik Matulessy, MSi - Dosen Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya

Pakar bukanlah manusia yang selalu benar. Pendapatnya boleh dipertanyakan, dikritik, bahkan dibantah keras. Namun demikian ketika perbedaan pandangan dijawab dengan merendahkan kapasitas seseorang dan penonton justru tertawa, persoalannya bergeser dari perdebatan keilmuan menjadi fenomena yang memprihatinkan.

Saat kritik terhadap keahlian tidak lagi dijawab dengan data dan argumentasi, tetapi dengan serangan personal yang memperoleh tawa atau tepuk tangan, ruang diskusi berisiko bergeser dari argumentative culture menuju ridicule culture.

Yang mendapatkan perhatian bukan lagi kualitas gagasan, melainkan kemampuan mempermalukan pihak yang berbeda pandangan. Dalam relasi kekuasaan, keadaan ini juga dapat mendorong spiral of silence. Orang yang sebenarnya tidak nyaman dapat memilih diam atau mengikuti suasana karena khawatir berbeda dengan figur dominan atau mayoritas.

Dalam jangka panjang, budaya semacam ini dapat melemahkan keberanian untuk memberikan kritik, menyampaikan argumentasi sesuai keahlian secara independen, dan berbeda pendapat. Pakar bisa keliru dan pemegang kekuasaan berhak tidak setuju.

Namun demikian pengetahuan seharusnya diuji dengan pengetahuan, data dengan data, dan argumentasi dengan argumentasi. Ketika keahlian direndahkan dan ruangan justru dipenuhi tawa, yang perlu kita renungkan bukan hanya siapa yang sedang direndahkan, tetapi budaya dialog seperti apa yang sedang kita bangun.

Komentar / Jawab Dari